Tradisi unik dan langka yang ada di Papua

Papua. Pulau terbanyak di Indonesia yang terdapat sangat timur dari area Nusantara ini banyak hendak pangkal energi alam. Kemajuan asal ide julukan pulau Papua mempunyai ekspedisi yang jauh bersamaan dengan asal usul interaksi antara bangsa asing dengan warga Papua, tercantum pula dengan bahasa- bahasa lokal dalam memaknai julukan Papua.

Provinsi Papua, tadinya melingkupi semua area Indonesia di Pulau Papua. Pada era rezim kolonial Hindia Belanda, area ini diketahui bagaikan Nugini Belanda( Nederlands Nieuw- Guinea ataupun Dutch New Guinea). Sehabis terletak berasosiasi dengan Negeri Kesatuan Republik Indonesia, area ini diketahui bagaikan Provinsi Irian Barat semenjak tahun 1963 sampai 1973. Namanya setelah itu ditukar jadi Irian Berhasil oleh Soeharto pada dikala meresmikan tambang tembaga serta kencana Freeport, julukan yang senantiasa dipakai dengan cara sah hingga terbitnya Hukum Nomor. 21 Tahun 2001 mengenai Independensi Spesial Papua memercayakan julukan provinsi ini buat ditukar jadi Papua.

Pada tahun 2003, diiringi oleh bermacam keluhan( pencampuran Papua Tengah serta Papua Timur), Papua dipecah jadi 2 provinsi oleh penguasa Indonesia; bagian timur senantiasa mengenakan julukan Papua sebaliknya bagian baratnya jadi Provinsi Irian Berhasil Barat( setelah itu jadi Papua Barat). Bagian timur inilah yang jadi area Provinsi Papua pada dikala ini. Julukan Papua Barat( West Papua) sedang kerap dipakai oleh Badan Papua Merdeka( OPM), sesuatu aksi separatis yang mau merelaikan diri dari Indonesia serta membuat negeri sendiri.

Papua tidak cuma populer dengan kukila khas Cendrawasih ataupun subjek wisatanya yang bagus semacam di Raja Ampat, Halaman Nasional Wasur yang didominasi sabana, dan Halaman Nasional Lorentz yang di dalamnya sedang banyak tumbuhan asli, binatang, serta pula adat yang jadi terbanyak di Asia Tenggara. Papua yang ialah pulau terbanyak kedua di bumi( sehabis Pulau Greenland di Denmark) ini pula mempunyai ratusan kaum dengan lebih dari 2 dupa bahasa wilayah. Suku- suku agen joker123 terpercaya itu semacam kaum Asmat, Amungme, Huli, Bauzi, Muyu, Korowai, Dani, serta banyak lagi. Adat- istiadat istimewa ini cuma dapat kalian temui di kaum Dani yang bermukim di area Ngarai Baliem, Papua. Adat- istiadat ini dicoba oleh kaum Dani bagaikan ciri gelisah yang amat dalam sebab kehabisan salah satu badan keluarga mereka yang tewas bumi. Tidak hanya itu, adat- istiadat ini pula wajib dicoba menghindari kembali bala yang menimbulkan kematian dalam keluarga itu.

Adat- istiadat ini dicoba sehabis prosesi penguburan dengan langsung memotong salah satu jemari badan keluarga yang berkabung dengan pisau, kapak ataupun golok. Metode lain yang pula lazim dicoba merupakan dengan mengerkah ruas jemari sampai putus, mengikatnya dengan seutas ikatan biar gerakan darah terhambat serta ruas jemari jadi mati setelah itu terkini dipotong. Nah, dari banyaknya kaum yang berumah di area Papua, saudara- saudara kita di situ mempunyai banyak adat- istiadat istimewa yang bisa jadi belum sempat kamu dengar tadinya. Sebagian adat- istiadat istimewa serta menarik yang dipunyai warga Papua antara lain bagaikan selanjutnya.

1. Pijak Piring( Mansorandak).

Dalam adat- istiadat ini, si musafir hendak mandi bunga di atas piring adat, setelah itu masuk ke suatu ruangan bersama keluarga besar serta ia hendak memutari 9 piring adat sebesar 9 kali. Mengapa 9? Sebab menandakan 9 ahli kaum Doreri di Manukwari.

Sehabis itu, si musafir hendak tiba replika buaya yang jadi ikon godaan serta tantangan dalam hidup, diakhiri dengan makan bersama. Adat- istiadat ini diucap Mansorandak, bagaikan perkataan rasa terima kasih atas kepulangan badan keluarga sekalian buat membersihkannya dari roh- roh kejam sepanjang di perantauan.

Tetapi, saat ini warga Kaum Biak melaksanakan Mansorandak dengan menyiramkan air pada si musafir yang sudah kembali saat sebelum merambah rumah, tidak dengan memutari 9 piring.

Tidak cuma momen menyongsong saudara yang kembali dari perantauan, adat- istiadat Pijak Piring ini pula dicoba dikala menyongsong pengunjung negeri yang bertamu ke Manokwari. Para pengunjung hendak melaksanakan adat- istiadat Pijak Piring ini dengan cara simbolis bagaikan wujud rasa terima kasih warga di situ atas kunjungan mereka.

2. Bakar Batu( Barapen).

Adat- istiadat istimewa lain yang dicoba warga Papua merupakan Bakar Batu yang diucap Barapen. Barapen merupakan gelar buat yang di kota, terdapat pula julukan yang lain pada tiap- tiap wilayah. Barapen ini bagaikan ikon rasa terima kasih serta perkerabatan, tetapi dapat pula dicoba dikala seremoni kematian. Adat- istiadat ini ialah salah satu adat tertua di situ.

Jadi, dalam adat- istiadat Bakar Batu ini warga di situ hendak membuat suatu lubang serta menutupinya dengan daun- daun pisang. Di atasnya, mereka hendak menata batu- batu yang telah bersih serta berdimensi lebih besar sangat dasar, setelah itu kusen bakar di atasnya, serta ditutup dengan batu- batu berdimensi kecil. Sehabis itu, mereka membakar lapisan batu- batu itu hingga panas, kemudian meletakkan santapan berjumlah banyak buat dimasak di atasnya. Santapan itu bisa berbentuk daging babi, ketela, sayur- mayur, serta serupanya. Sehabis matang, mereka juga menyantapnya bersama- sama ditemani kopi getir. Astaga, asyik betul jika dapat sertaan? Nyatanya adat- istiadat semacam itu hendak meningkatkan rasa perkerabatan yang terus menjadi akrab sesama masyarakat Papua.

3. Potong jemari( Iki Palek).

Hah? Potong jemari? Iya, guys. Jadi, bila terdapat badan keluarga yang tewas, warga di situ hendak memotong jemari tangan mereka. Memanglah terkesan berlebihan sih, tetapi itu mereka jalani bagaikan ikon kesedihan sekalian buat menjauhkan datangnya musibah lagi yang menimbulkan kematian. Kaum Dani di Ngarai Baliem, Papua melaksanakan adat- istiadat potong jemari ini sehabis kegiatan penguburan berakhir, memakai golok ataupun pisau. Adat- istiadat istimewa ini cuma dapat kalian temui di kaum Dani yang bermukim di area Ngarai Baliem, Papua. Adat- istiadat ini dicoba oleh kaum Dani bagaikan ciri gelisah yang amat dalam sebab kehabisan salah satu badan keluarga mereka yang tewas bumi. Tidak hanya itu, adat- istiadat ini pula wajib dicoba menghindari kembali bala yang menimbulkan kematian dalam keluarga itu.

Adat- istiadat ini dicoba sehabis prosesi penguburan dengan langsung memotong salah satu jemari badan keluarga yang berkabung dengan pisau, kapak ataupun golok. Metode lain yang pula lazim dicoba merupakan dengan mengerkah ruas jemari sampai putus, mengikatnya dengan seutas ikatan biar gerakan darah terhambat serta ruas jemari jadi mati setelah itu terkini dipotong. Metode yang lain, keluarga yang ditnggalkan itu hendak mengerkah ruas jemari mereka sampai terpenggal. Jemari yang dipotong wajib cocok dengan jumlah badan keluarga yang tewas itu.

4. Ararem.

Kaum Biak di Papua melaksanakan adat- istiadat Ararem dikala kegiatan perkawinan warganya. Jadi, keluarga besar calon pengantin laki- laki membawakan abang berbaur ke rumah keluarga calon mempelai perempuan dengan berjalan kaki bawa bocong, piring- piring adat, serta lain- lain bagaikan seserahan.

Kaum keluarga besar calon pengantin laki- laki hendak berjalan kaki bawa seserahan dengan arak- arakan gaya tari serta lantunan semacam lagu- lagu nasional Indonesia sembari mengibarkan bendera Merah Putih. Wow, istimewa betul, guys?

5. Tato.

Warga Papua Barat paling utama kaum Meyakh serta Moi melaksanakan adat- istiadat membuat tato pada badan mereka. Tato itu bermotif garis serta titik- titik melingkar menyamai segitiga runjung ataupun tridiagonal yang berjajar lurus serta mendatar.

Warga di situ mencelupkan tulang ikan ataupun jarum tumbuhan bertam ke dalam pulut tumbuhan duku ataupun kombinasi arang lembut di dalam cara pembuatan tato itu.

Beberapa Hal Dalam Film Populer Ini Benar Adanya?

Memiliki sebuah tradisi yang turut serta diangkat menjadi plot utama dalam film populer patut dibanggakan. Pasalnya, tidak hanya hal tersebut dapat memperkenalkan tradisi masyarakat lokal kepada orang lain, tetapi juga merupakan sebuah kesempatan untuk menarik wisatawan asing untuk berkunjung. Akan tetapi, terkadang tradisi yang diambil hanyalah sebagian saja sementara sisanya sudah dibumbui oleh hal-hal fiksi dan dramatisasi saja.

Tengoklah film populer yang baru saja rilis tahun ini berjudul Midsommar. Bagi kalian yang masih belum menonton, tulisan ini akan mengandung spoiler. Midsommar merupakan film bergenre horor ‘terang’ yang mengambil latar belakang berdasarkan sebuah tradisi dengan nama yang sama. Dalam film tersebut, salah satu tokoh utama mengalami hal-hal aneh yang dihasilkan oleh bagaimana lingkungan sekitar dirinya bekerja. Film ini disebut sebagai film horor ‘terang’ karena seluruh pengambilan gambar dan kisah-kisah menegangkan yang diceritakan benar-benar berada di bawah terik matahari. Sehingga, film ini memiliki ciri khas sendiri dan berbeda dari film horor lain. Mengenai tradisi yang dijadikan latar belakang plot, seberapa banyak hal-hal dalam film populer ini memang benar dilakukan?

Sambutan Libur Musim Panas

Tradisi ini adalah sebuah tradisi pembukaan untuk menyambut libur musim panas. Dalam melakukannya, biasanya orang-orang yang tinggal di Swedia meninggalkan kota tempat mereka tinggal selama lima minggu untuk pergi ke pedesaan. Dalam petunjuk resmi untuk melakukan Midsummer, tradisi ini dideskripsikan sebagai tradisi liburan yang mendedikasikan hari-harinya untuk makan, minum, menari, dan melakukan berbagai macam ritual pagan. Biasanya, hari libur ini ditandai oleh Midsummar Eve yang berada pada hari Jumat di antara tanggal 19 hingga 25 Juni.

Jika dibandingkan dengan adegan dalam film, hal ini benar adanya. Sebab, Pelle (diperankan oleh Vilhelm Blomgren) mengatakan kepada Dani (Florence Pugh) bahwa festival Midsummer adalah perayaan untuk menyambut musim panas yang diadakan di pedesaan.

Berkumpul Dengan Keluarga dan Memetik Bunga

Midsummer merupakan sebuah acara yang diikuti oleh banyak masyarakat. Banyak keluarga yang mengambil kesempatan ini untuk bersosialiasi dengan orang lain agar mereka dapat menikmati hari liburan mereka dengan tenang. Dalam acara perkumpulan ini, masyarakat biasanya memulai hari dengan memetik beragam macam bunga untuk dijadikan sebuah karangan bunga untuk ditaruh di tiang. Tiang tersebut merupakan komponen utama dari Midsummer.

Dalam film, ketika Dani dan teman-temannya sampai ke tempat tujuan, mereka dapat melihat banyak sekali saudara Pelle yang berkumpul di desa tersebut. Tidak hanya saudara, banyak juga orang lain yang berkumpul untuk melakukan perayaan. Bahkan, salah saudara Pelle turut serta membawa dua orang teman ke perayaan tersebut. Kemudian dalam beberapa adegan, terdapat beberapa potongan film yang menunjukkan banyak orang memetik bunga di pagi hari sebagai aktivitas pembuka hari.

Menari Mengelilingi Tiang

Sebelumnya sudah disebutkan bahwa orang-orang memetik bunga untuk membuat sebuah karangan untuk menghias tiang. Menaikkan tiang dan menari mengelilinya, sering disebut dengan majstang atau midsommarstang, merupakan sebuah kegiatan yang menarik perhatian para keluarga yang hadir dalam perayaan tersebut.

Untuk hiasan tiang sendiri, biasanya masyarakat Swedia tidak hanya menghiasnya dengan bunga tetapi juga dengan banyak sekali tanaman hijau. Menurut mereka, tanaman dan bunga tersebut seharusnya dapat memberi mereka nasib baik dan kesehatan. Walaupun tradisi ini tetap berjalan, tetapi tidak banyak masyarakat yang masih menganggap tradisi tersebut sesuatu yang penting. Untuk kegiatan menari sendiri, hal tersebut hanyalah sebuah kegiatan untuk bersenang-senang.

Melihat kembali ke dalam adegan film, kegiatan menghias tiang tidak terlalu diperlihatkan. Sementara untuk kegiatan menari, berdasarkan perayaan Midsummer yang sebenarnya, kegiatan tersebut memang ada. Akan tetapi, mereka tidak menari sampai hanya ada satu orang saja yang tersisa. Selain itu, tarian juga tidak hanya diikuti oleh wanita, tetapi juga laki-laki. Sementara untuk pakaian sendiri, tidak ada aturan yang menyebutkan bahwa hanya pakaian berwarna putih saja yang boleh digunakan dalam Midsummer. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang digambarkan dalam film, dimana semua orang menggunakan pakaian berwarna putih.

Tradisi Ini Bukanlah Perayaan Halloween

Meski dirayakannya dekat dengan perayaan Halloween, akan tetapi salah satu perayaan asal Meksiko bernama Day of the Dead sangatlah berbeda. Walaupun banyak orang memiliki miskonsepsi bahwa hari yang memiliki nama lain Dia de los Muertos adalah perayaan Halloween milik Meksiko, tetapi bagi rakyat Meksiko perayaan tersebut memiliki kepentingan yang sama seperti Hari Natal.

In Mexico City, People Participate a Catrina Parade

Dirayakan pada dua hari pertama di bulan November, Day of the Dead memiliki tujuan sebagai selebrasi akan mereka yang telah meninggal. Perayaan dua hari ini meliputi perkumpulan antara teman dan keluarga untuk berdoa bersama dan mengingat mereka yang telah meninggal, dan juga membantu perjalanan spiritual mereka. Dalam budaya Meksiko, kematian dilihat sebagai bagian natural dari kehidupan manusia. Maka dari itu, Day of the Dead bukanlah perayaan Halloween dan juga bukan hari yang menyedihkan melainkan hari untuk merayakan kepergian seseorang. Meski sebuah perayaan, akan tetapi Day of the Dead memiliki beberapa tradisi yang bahkan sampai sekarang masih dilakukan oleh orang-orang Meksiko.

Mendirikan Altar

Altar yang didirikan dilihat sebagai sebuah tradisi pokok dalam perayaan yang telah ada sejak zaman dahulu. Biasanya, altar-altar tersebut didekorasi menggunakan berbagai macam warna terang seperti warna oranye dan warna ungu. Selanjutnya, altar akan dipenuhi dengan beberapa seserahan seperti lilin, beragam macam bunga, dan beberapa barang-barang pribadi milik seseorang yang telah meninggal.

Karena altar tersebut merupakan sesuatu yang privat, biasanya orang Meksiko mendirikannya di dalam rumah. Akan tetapi, dalam beberapa komunitas seperti Patzcuaro, banyak keluarga mendirikan altar tersebut tepat di atas pemakaman orang yang telah meninggal. Tidak hanya itu, bahkan akhir-akhir ini altar didirikan di beberapa bangunan publik. Perencanaan dalam pembuatan altar ini biasanya memakan waktu sampai berbulan-bulan demi hasil akhir yang mengagumkan.

Pemberian Seserahan Berdasarkan Tanggal

Tradisi ini berjalan secara bersamaan dengan pendirian altar. Para keluarga biasanya memilih beragam seserahan yang seharusnya dapat membantu mereka yang telah meninggal untuk kembali pulang dan mendengar doa-doa yang dipanjatkan oleh keluarga mereka.

Setiap tanggal 1 November, atau yang lebih dikenal sebagai Dia de los Inocentes, para anak yang meninggal selalu diberi beragam macam mainan dan permen. Sementara setiap tanggal 2 November, seserahan yang diberikan adalah untuk para orang dewasa. Seserahan tersebut terkadang berupa alkohol, rokok, jersey sepak bola, lilin, dan cempasuchiles dan pan de muerto khas Meksiko.

Cempasuchiles Bukanlah Sekadar Seserahan

Meski masuk ke dalam seserahan, akan tetapi bunga marigold ini juga memiliki cerita sendiri dalam tradisi yang dilakukan selama Day of the Dead. Masyarakat Meksiko percaya bahwa bunga marigold ini dapat membantu mengarahkan jiwa orang-orang yang telah meninggal untuk kembali ke dunia. Menurut mereka, hal tersebut penting karena marigold hanya berbunga selama musim hujan yang mana musim tersebut selalu mendahului perayaan Day of the Dead. semenjak itu, bunga marigold selalu menjadi bagian terpenting yang diasosiasikan dengan perayaan tersebut.

Pembuatan Sugar Skulls

Mungkin bagi mereka yang masih awam, mereka hanya tahu bahwa istilah ‘sugar skull’ berasal dari perayaan Halloween yang mana merupakan sebutan bagi riasan wajah bergambar tengkorak yang dihiasi gambar bunga dan warna-warna terang. Akan tetapi, ternyata istilah tersebut berasal dari perayaan Day of the Dead.

Dalam tradisinya, sugar skull dapat dibeli atau dibuat sendiri oleh para keluarga Meksiko sebelum ditaruh di altar sebagai salah satu bagian dari seserahan. Tetapi sebelum ditaruh, sugar skull diberi tulisan dari nama orang yang telah meninggal dengan menggunakan icing tepat di bagian dahi.

Melakukan Penjagaan Kuburan

Walaupun sekarang banyak keluarga yang memilih untuk berdiam di rumah sepanjang perayaan Day of the Dead, tetapi kegiatan berjaga di kuburan masih sering dilakukan oleh beberapa komunitas orang Meksiko. Selain itu, kegiatan ini merupakan salah satu ritual yang paling ternama.

Salah satu area yang mana ritual ini masih sering dilakukan adalah di Patzcuaro, Michoacan. Setiap tanggal 2 November, tidak hanya para penduduk yang pergi menggunakan perahu ke Isla de Janitzio, tetapi terkadang para turis yang penasaran akan tradisi ini juga turut serta ikut menyaksikan bagaimana tradisi ini berlangsung.

Dalam tradisi ini, tidak hanya mereka menjaga kuburan, tetapi mereka juga membersihkan dan bahkan mendekorasi kuburan. Walaupun tidak semua orang Meksiko memilih untuk memberi penghormatan kepada yang telah meninggal dengan cara seperti ini, tetapi tradisi membersihkan kuburan tetap menjadi tradisi yang dihormati.

Mengikuti Parade Catrina

Meskipun Parade Catrina kurang lebih hanya berada di Kota Meksiko saja, tetapi beberapa lokasi juga mengadakan parade ini. Setiap tahunnya, ribuan orang datang ke parade ini menggunakan kostum Catrina dan turun ke zocalo (sebuah plaza atau ruang publik) untuk berpartisipasi dalam parade ini.

Masyarakat Meksiko yang turut serta mengikuti Parade Catrina biasanya menggambar wajah mereka mengikuti gaya tengkorak Catrina. Selain itu, riasan wajah tersebut juga lengkap diwarnai berbagai macam warna-warna terang di sekitar mata dan pipi. Mereka juga datang dengan menggunakan pakaian yang pantas untuk digunakan di Parade Catrina.